Oleh: keluarga ikmal | Juli 4, 2012

Cara Mengecek Perhitungan jam Roshdul Qiblat (1)

Menghitung Jam Rashdul Qiblat

OLEH : Syauqi Nahwandi

Yang di maksud bayang-bayang matahari ke arah kiblat adalah bayangan benda yang berdiri tegak dan di tempat yang datar  pada saat tertentu (sesuai hasil perhitungan) menunjukkan arah kiblat.

1. RUMUS MENCARI SUDUT PEMBANTU ( U )

Cotan U          = tan B sin fx

2. RUMUS MENCARI SUDUT WAKTU ( t )

Cos ( t-U )       = tan dm cos U : tan fx

3. RUMUS MENETAPKAN BAYANGAN MATAHARI  KE ARAH KIBLAT DENGAN WAKTU HAKIKI ( WH )

WH                 = pk. 12 + t  ( jika B = UB / SB )

                        = pk. 12 – t  ( jika B = UT / ST )

4. RUMUS MENGUBAH DARI WAKTU HAKIKI ( WH ) KE WAKTU DAERAH/ LOCAL MEAN TIME ( WIB, WITA WIT ):

WD ( LMT )    = WH – e + ( BTd – BTx )

Keterangan:

U         adalah sudut pembantu ( proses ).

t-U     ada dua kemungkinan, yaitu positip dan negatip. Jika U negatip (-), maka t-U tetap positip. Sedangkan jika U positip (+), maka t-U harus diubah menjadi negatip.

t         adalah sudut waktu matahari saat bayangan benda yang berdiri tegak lurus menunjukkan arah kiblat.

dm       adalah deklinasi matahari. Untuk mendapatkan hasil yang akurat tentu tidak cukup sekali. Tahap awal menggunakan data pukul 12 WD ( pk.12 WIB = pk.05 GMT ), Tahap kedua diambil sesuai hasil perhitungan data tahap awal dengan menggunakan interpolasi.

WH    adalah Waktu Hakiki, orang sering menyebut waktu istiwak, yaitu waktu yang didasarkan kepada peredaran matahari hakiki dimana pk. 12.00 senantiasa didasarkan saat matahari tepat berada di miridian atas.

WD    singkatan dari Waktu Daerah yang juga disebut LMT singkatan dari Local Mean Time, yaitu waktu pertengahan untuk wilayah Indonesia, yang meliputi Waktu Indonesia Barat ( WIB ) Waktu Indoneia Tengah ( WITA ) dan Waktu Indonesia Timur ( WIT ).

e         adalah Equation of Time ( Perata Waktu atau Daqoiq ta’dil al-zaman ). Sebagaimana deklinasi matahari, Untuk mendapatkan hasil yang akurat tentu tidak cukup sekali. Tahap awal menggunakan data pukul 12 WD ( pk.12 WIB = pk.05 GMT ), Tahap kedua diambil sesuai hasil perhitungan data tahap awal dengan menggunakan interpolasi.

BTd    adalah Bujur Daerah, WIB = 1050, WITA = 1200 dan WIT = 1350.

CONTOH SOAL MENGHITUNG BAYANG-BAYANG

MATAHARI KE ARAH KIBLAT :

Pukul berapa WIB bayang-bayang matahari menunjukkan arah Kiblat di Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT ) pada tanggal 15 Juli  2009 M ?

JAWAB:

Cotan U         = tan B sin fx.

= tan 650 30’ 15.83 X sin –60 59’ 5”

U         = -750  30  23.62

CARA MENOMBOL KALKULATOR:UNTUK MEMPEROLEH U

  1. Ada  X-1  tidak ada 1/X.

Tombol secara berturut-turut:   shift  tan  ( tan  650‘” 300‘” 15.830‘” X  sin  (-)  6  0‘”  590‘”  5  0‘”   )  X-1    =   shift   0‘”. Kemudian muncul  bilangan  -750  30  23.62  . Berarti U = -750  30  23.62

  1. Ada 1/X  tidak ada X-1   .

Tombol secara berturut-turut  65  0‘” 30  0‘”  15.83  0‘”  tan  X  6  0‘”  59  0‘”  5  0‘”   +/-  sin  =   1/X[1]  shift  tan shift   0‘” [2]

kemudian muncul bilangan  -750  30  23.62

Berarti U ( sudut pembantu ) MAJT = -750  30  23.62    .

TANGGAL 15 JULI 2009

Pk. 12.00 WIB ( 05 GMT )

Deklinasi Matahari  ( dm )  = +210 30’ 11”    Equesion of Time (e) = -0j 5m 57d

Cos   ( t-U )     =  tan dm cos U : tan fx

Cos   ( t-U )     =  tan 210 30’ 11” X cos -750 3’ 23.62 : tan -60 59’ 5”

t-U       =  1460  1’   9.64

CARA MENOMBOL KALKULATOR UNTUK MENCARI  t – U :

A.  Ada  X-1  tidak ada 1/X

Tombol secara berturut-turut shift  cos  (  tan  210‘” 300‘”  110‘”  X  cos (-) 75  0‘”  30‘”  23.62  0‘”  :  tan  (-)  6  0‘”  59  0‘”  5  0‘”    )  =   shift   0‘” [3]    kemudian muncul bilangan   1460   10   9.64

Berarti t-U  =  1460   10    9.64

B   Ada 1/X  tidak ada X-1   .

Tombol secara berturut-turut     21 0‘” 30  0‘”  11  0‘”  tan   X   75  0‘”  3  0‘”  23.62  0‘”  +/-   cos   :    6  0‘”  59  0‘”  5  0‘”  +/-   tan   =   shift   cos   shift    0‘” [4]

kemudian muncul bilangan   1460   10   9.64

Berarti t-U  =  1460   10    9.64

t-U =  1460  01’   09.64    karena U negatip (-), maka t-U tetap positip

U   =   -750  03’   23.62 +

T   =    700  57’   46.02  kemudian dibagi 15 = shift  0‘”  muncul sebagai t

=  +04j  43m   51.07

BAYANG-BAYANG MATAHARI KE ARAH KIBLAT:

WH     = pk. 12 + t

= pk. 12 + ( +04j 43m 51.07 )

= pk. 16. 43 .51,07

WD (LMT)      = WH – e + ( BTd – BTx )

WIB                = pk. 16.43.51,07 – (-0j 5m 57d) + ( 1050 – 1100 26’ 47” ) / 15

= pk. 16. 28 .00,93

Jadi pada Tanggal 15 Juli 2009 di MAJT pukul 16:28:00,93 WIB bayangan benda yang tegak lurus menghadap ke arah Qiblat.

 

Cara Mengecek Perhitungan Jam Rashdul Qiblat

Jika kita ingin menghitung Rashdul Qiblat, kita akan menemukan banyak rumus menghitung jam Rashdul Qiblat. Rumus-rumus tersebut mungkin hasilnya akan sama jika kita menghitung jam rashdul qiblat Indonesia. Rumus Rashdul Qiblat di atas adalah rumus yang dipakai oleh H. Slamet Hambali, M.Si, dosen Falak IAIN Walisongo yang sering menjadi rujukan permasalahan Hisab dan Rukyah. Tetapi jika kita ingin menghitung jam rashdul qiblat di luar Indonesia, terkadang satu rumus menghasilkan jam yang berbeda dengan rumus yang lain. Maka timbul dalam pikiran kita, rumus manakah yang benar? Hasil jam rashdul qiblat manakah yang benar?

Pertanyaan pertama mungkin terlalu susah untuk dijawab. Karena untuk menjawabnya, kita harus tahu logika dari perhitungan jam rashdul qiblat sehingga bisa mendapatkan rumus tersebut. Seperti yang dialami oleh penulis yang mendapatkan tugas menghitung jam rashdul qiblat suatu daerah. Ternyata hasil perhitungan penulis berbeda dengan hasil perhitungan H. Slamet Hambali, M.Si karena berbedanya rumus yang dipakai. Penulis tidak berani menyalahkan rumus yang dipakai. Tapi kemudian terbesit dalam pikiran penulis untuk mencari tahu hasil perhitungan manakah yang benar.

Logika dasar mencari jam rashdul qiblat sebenarnya mudah. Yaitu mencari jam pada saat bayangan suatu benda yang tegak lurus di bidang datar, ujung bayangan atau pangkal bayangannya menghadap ke arah qiblat. Dan sifat dari bayangan suatu benda yang terkena sinar matahari adalah ARAHNYA BERLAWANAN DENGAN ARAH MATAHARI, jika arah matahari UT maka arah bayangan tongkat adalah SB, jika arah matahari ST maka arah bayangan tongkat adalah UB,dst. Maka untuk mengecek hasil perhitungan jam rashdul qiblat, kita harus mencari ARAH MATAHARI. Dan hasil ARAH MATAHARI HARUS SAMA DENGAN ARAH QIBLAT (positif dan negatifnya diabaikan).

Contoh:

Lintang tempat = 11o 02’ 00” (LU)

Bujur Tempat = 40o 30’ 15” (BB)

Deklinasi = -20o 33’ 16”

Equation of time = 0o 13’ 23”

Arah Qiblat = 70o 18’ 02,51” (UT)

Rashdul Qiblat = 17:41:15,9 LMT

Untuk mengecek apakah bayangan tongkat tepat menghadap Qiblat pada jam tersebut, maka:

1. Mencari Meridian Pass

MP = 12 – e +((BD-BTx)/15) untuk Bujur Timur

MP = 12 – e – ((BD-BBx)/15) untuk Bujur Barat

MP = 12 – 0o 13’ 23” – ((45o – 40o 30’ 15”)/15)

=  11o 28’ 38”

2. Mencari Sudut Waktu Matahari

To = (MP – RQ) x 15

= (11o 28’ 38” – 17o 41’ 15,9”) x 15

= 93o 09’ 28,5” (Jika matahari masih di atas ufuk, sudut waktunya diabsolutkan)

3. Menghitung Arah Matahari

Cotan Azo = (tan δo xcos Ф / sin to – sin Ф / tan to)

Cotan Azo = (tan -20o 33’ 16”xcos 11o 02’ 00” / sin 93o 09’ 28,5” – sin 11o 02’ 00” / tan

93o 09’  28,5”)

= -70o 18’ 02,5” (SB)

Jika Arah Matahari = Arah Qiblat (Cotan), maka jam Rashdul qiblatnya benar (positif dan negatifnya diabaikan).

Jika Arah Matahari dan Arah Qiblat (Cotan) ittifaq, yaitu sama – sama positif atau sama sama negatif, maka arah qiblat ditunjukkan oleh pangkal bayangan. Jika Arah Matahari dan Arah Qiblat (Cotan) ikhtilaf, yaitu salah satunya positif dan satunya negatif, maka arah qiblat ditunjukkan oleh ujung bayangan.

Wallohu A’lam bis Showab…


                [1]. Jika 1/X  di atas tombol, maka sebelum menombol  1/X  harus didahului dengan menombol shift

                [2]. Jika sebelum ditombol shift 0‘”   sudah menunjukkan hasil dalam bentuk derajat menit dan detik, maka tidak perlu menombol shift 0‘”

                [3]. Jika sebelum ditombol shift 0‘”   sudah menunjukkan hasil dalam bentuk derajat menit dan detik, maka tidak perlu menombol shift 0‘”

                [4]. Jika sebelum ditombol shift 0‘”   sudah menunjukkan hasil dalam bentuk derajat menit dan detik, maka tidak perlu menombol shift 0‘”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: