Oleh: keluarga ikmal | Januari 2, 2012

Membincang Islamisasi Pengetahuan Al-Faruqi

Membincang Islamisasi Pengetahuan Al-Faruqi[i]

0leh     : Agus Irfan[ii]

Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan issue penting dalam perkembangan pemikiran Islam modern. Paling tidak ada dua tokoh repsesentatif yang berkaitan dengan pemikiran Islamisasi ilmu pengetahuan yakni Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ismail Roji Al-Faruqi. Salah satu Perbedaan pendekatannya jika Al-Attas menekankan akan pentingnya pembangunan individu melalui jalur sufisme (tasawuf), sebagaimana digunakan Al-Ghazali dalam aspek penyucian jiwa sebelum dihiasi yang lain atau dengan kata lain Islamisasi individu sebelum Islamisasi pengetahuan (baca:Ar-Risalah al-Laduniyyah), maka Al-Faruqi menekankan pada pendekatan keumatan atau transformasi sosial dengan cara pandang tauhidinya.

Namun terlepas dari segala varian perbedaannya, kedua tokoh tersebut sama-sama berangkat dari sebuah keprihatinan tentang pelbagai masalah yang dihadapi umat Islam saat ini dan terjadi pada semua level, terutama menyangkut pendidikan. Oleh karena itu mereka meyakini dan selalu mengkampanyekan Islam sebagai pandangan dan jalan hidup (Islamic Worldview) dengan metode berfikir tauhidi/integral.

Sebagaimana ditulis oleh al-Faruqi dalam bukunya Islamization of Knowledge: Principles, and Prospective, bahwa dunia umat Islam saat ini berada di anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Di dalam abad ini, tidak ada kaum lain yang mengalami kekalahan atau kehinaan seperti yang dialami kaum muslimin. Mereka telah ditipu, dijajah, disekulerkan, dan dide-islamisasi-kan oleh agen-agen musuh mereka di dalam dan di luar diri mereka, bahkan melalui pendidikan di kampus Islam sekalipun. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian banyak bermunculan sarjana muslim yang ragu terhadap agamanya sendiri, atau dalam istilah al-Faruqi ”the young muslim westernized in the Islamic Univercities”

Hegemoni Barat tersebut membawa dampak di semua lini dan tidak berkesudahan sampai hari ini. Di front politik, sebagaimana diketahui bersama umat Islam terpecah belah dan belum terlihat sebagai kekuatan masif menghadapi zionis. Di front ekonomi juga terlihat jelas umat Islam belum maju dan terbelakang. Kekayaan minyak yang telah diperkenankan Allah Swt kepada beberapa negara Islam ternyata belum bisa menjadi nikmat yang seharusnya, tidak terkecuali di bumi Indonesia. Permasalahan semakin sempurna ketika hegemoni itu juga masuk pada ranah pendidikan yang sangat mempengaruhi mental dan kualitas umat Islam.

Kompleksnya problematika ilmu-ilmu yang lahir dari paradigma Barat tentu seiring dengan lahir dan berkembangnya berbagai isme antroposentris di Barat seperti empirisme, relativisme, liberalisme, materialisme, humanisme dan lain sebagainya. Semua itu telah mengakibatkan hilangnya intervensi Tuhan yang melalui wahyu Nya menjadi sumber ilmu dan kebenaran. Pemisahan wahyu dari akalnya tentu hal yang sangat bertentangan dengan keseluruhan spirit Islam.

Al Faruqi men yebutkan beberapa faktor fondasi yang menjadi jiwa budaya dan peradaban ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat seperti superioritas akal dalam membimbing kehidupan manusia, sikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran, semakin menegaskan aspek eksistensi hidup sekuler, dan meyakini doktrin humanisme.

Oleh karena itu tema Islamisasi mempunyai arti perlawanan secara epistemologis dari adanya gerakan westernisasi tersebut. Jika westernisasi dipahami sebagai pembaratan, maka Islamisasi dipahami sebagai upaya penglepasan sesuatu dari proses pembaratan tersebut dengan kata lain memurnikan sesuatu dari pengaruh-pengaruh Barat. Dalam istilah Al Faruqi, Islamisasi adalah proses pembebasan manusia dari unsur-unsur magis, keyakinan yang buta, bersandar kepada literalisme dan legalisme di satu sisi. Atau Islamisasi di sisi lain berkaitan dengan pembebasan akal manusia dari keraguan (syak), prasangka (dzann), dan argumentasi kosong (mera’) menuju pencapaian keyakinan (yaqin) dan kebenaran (haqq) mengenai realitas-realitas spiritual, penalaran dan material.

Sebegitu pentingnya masalah pendidikan sebagai jantung dan pra syarat kebangkitan umat Islam, maka ini akan menjadi tugas berat yang akan dihadapi pada abad 21 ini. Terlebih harus memperbaiki dan merubah sistem dengan bangunan baru. Dualisme yang sekarang ini dijumpai di dalam pendidikan muslim, dikotomi sistem Islam dan sistem sekuler harus ditiadakan, dan kedua sistem tersebut segera dipadukan secara integral serta diisi dengan semangat Islam dari program ideologisnya. Dengan perpaduan ini pengetahuan Islam akan menjadi pengetahuan tentang sesuatu yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, sementara pengetahuan modern akan bisa dibawa dan dimasukkan ke dalam kerangka sistem Islam.

Selain pendidikan integral di atas, masih menurut al-Faruqi hal yang sangat urgen untuk dilakukan adalah kewajiban remaja muslim mempelajari kebudayaan dan peradabannya di tingkat universitas selama kurang lebih empat tahun. Kenyataan bahwa ia seorang warga negara, bagian dari golongan umat, meniscayakannya untuk menuntut bekal pengetahuan tentang warisan umat, pemahaman semangat umat, dan mengenal kebudayaannya.

Studi kebudayaan adalah salah satu cara bagi seseorang untuk berkembang sehubungan dengan identitasnya. Mengetahui diri sendiri berarti mengetahui perbedaan antara dirinya dengan orang lain, tidak di dalam kebutuhan-kebutuhan materi atau realitas-realitas utilitarian, tetapi di dalam pandangan mengenai dunia, di dalam penilaian moral dan spiritual. Secara praksis ikhtiyar ini sudah banyak diterapkan di banyak Perguruan Tinggi swasta Islam, termasuk Unissula dengan dibukanya fakultas peradaban, dengan sumber daya mahasiswa dari berbagai di siplin ilmu pengetahuan.

Adapun langkah – langkah untuk dapat merealisasikan Islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, sebagaimana yang telah ditawarkan  Al-Faruqi, adalah:

  1. Penguasaan disiplin ilmu modern
  2. Survei disiplin ilmu
  3. Penguasaan khazanah Islam
  4. Penguasaan khazanah ilmiah Islam tahap analisa
  5. Penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern
  6. Analisa kreatif dan sintesa

Untuk merealisir tujuan-tujuan ini, sejumlah langkah tentu bisa diambil menurut kebutuhan yang dapat menentukan prioritas masing-masing langkah tersebut.

Dari paparan tentang Islamisasi pengetahuan sebagai salah satu perkembangan pemikran Islam modern, menurut hemat penulis issue tersebut bukanlah hal yang berlebihan atau meminjam istilah Mun’im Sirri terjebak dalam ”kerangka eskatologis” yakni berfikir terlalu idealis, melangit tanpa pijakan-pijakan yang jelas. Islamisasi pengetahuan adalah sebuah keniscayaan sebagai sebuah anti tesis dari hegemoni peradaban Barat yang kian hari tidak dapat menjadi problem solver dan atau memberikan pencerahan di semua sektor. Dalam ranah epistemologis misalnya, munculah apa yang kemudian disebut dengan istilah split personality, pribadi yang dualistik dan skeptis yang berujung pada isme-isme lain seperti liberalisme, pragmatisme, pluralisme, materialisme dan lain sebagainya sehingga tidak mengherankan jika di kemudian hari, sekali lagi muncul sarjana-sarjana yang ”hatinya berdzikir tapi pikirannya menghujat”. Oleh karena itu perlu dilakukan pembersihan ilmu dari unsur-unsur  dan nilai-nilai Barat (dewesternisasi).

Islamisasi adalah sebuah ideologi sebagaimana juga dilontarkan Nurkholis Madjid dengan istilah ”the will to power”, sebuah ideologi yang berorientasi masa lalu karena ideologi tersebut memperoleh pembenaran dan justifikasinya atau hanya punya nilai dan makna bila merujuk ke masa lalu. Melihat pandangan Nur kholis tersebut tergambar jelas bagaimana Islam pernah berjaya dengan konsep ideologinya sendiri seperti di masa Nabi, khulafa ar rasyidin dan juga di masa penguasa-penguasa Islam di Spanyol yang dikatakannya sebagai rahmat yang mengakhiri kezaliman keagamaan kristen sebelumnya. Hal ini dapat menjadi legitimasi  sekaligus mematahkan tesis yang beranggapan bahwa konsep Islamisasi adalah hal yang abstrak dan melangit. Namun demikian masih menurut penulis, untuk membumikan wacana tersebut perlu kiranya dibutuhkan kerja-kerja yang lebih praksis agar dapat dirasakan dan disadari oleh semua lapisan masyarakat dan di semua sektor tanpa terkecuali, karena Islam tidak semata-mata membicarakan hal-hal yang bersifat ’ubudiyyah namun juga hal-hal yang berkaitan dengan mu’amalah, dengan kata lain al-Islam huwa al-hall. Wallahu ’alam.


[i] Nama lengkapnya Ism’il Raji al-Faruqi. Pemikir besar muslim berkebagsaan Palestina yang bermukim di Amerika ini meninggal pada tahun 1986. Di antara karyanya adalah  Tauhid: Its Implication For Thought Ad Live (1982), dan Islamization of Knowledge: Principles, and Prospective,(1884).

[ii] Mahasiswa Magister Pemikiran Islam UMS, dan Al-Madinah Internatioal University, Malaysia, Asisten Wakil Rektor  IV Unissula Semarang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: