Oleh: keluarga ikmal | Desember 12, 2011

Tugas para ulama

oleh : yusuf bayu dan ulin nuha

PENDAHULUAN

 

Islam memberikan penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Betapa tidak, ulama menempati posisi yang strategis dalam Islam. Agama Islam menempatkan para ulama sebagai pewaris para nabi. Sehingga, pendapat dan buah pemikiran ulama merupakan referensi hukum yang patut dijalankan.

Bahkan, sebuah pendapat mengatakan bahwa para ulama wajib ditaati sepeninggal Rasulullah. Pendapat ini sebagaimana dikemukakan oleh Mujahid. Menurut Mujahid, pendapat tersebut mengacu pada firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS an-Nisa [4]: 59).Bagi Mujahid, arti kalimat ulil amri yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah para ulama dan ahli fikih(1[1]). Akan timbul pertanyaan, bagaimana bisa ulama mendapatkan kedudukan yang begitu mulia? Padahal mereka adalah manusia biasa sebagaimana kita?.

Dalam pandangan al-Ajurri, ulama bukanlah orang yang sekadar menguasai ilmu syariat dengan berbagai variannya. Tetapi lebih dari itu, kriteria ulama adalah figur yang bisa menjadi rujukan dalam pelbagai persoalan umat. Beragam persoalan yang harus dijawab ulama tidak terbatas pada problematika hukum agama, yang tak kalah penting menyangkut etika yang penting diteladankan sang ulama.

Sisi moralitas inilah yang bisa menempatkan ulama sebagai panutan yang layak diteladani. Tanpa itu, ulama tak ubahnya termasuk dalam kategori manusia biasa lainnya. Sedangkan, inti dari moralitas seorang ulama adalah frekuensi dan tingkat ketakwaannya terhadap Allah. Konsistensi dan komitmennya melaksanakan tiap perintah dan menjauhi larangan diletakkan sebagai barometer derajat yang dimiliki.

Seorang ulama tak akan tergiur dengan nafsu duniawi. Fokus yang ada dihadapannya tak lain ialah rasa takut yang mendalam kepada Allah. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Faathir [35]: 27).

Jika moralitas tersebut diabaikan, sesungguhnya mereka telah mengenakan baju kehormatan ulama, tetapi akhlaknya seperti mereka yang tak berpendidikan. “Lidahnya lidah ulama, tapi tingkah lakunya perilaku orang bodoh,” papar al-Ajurri.

Al-Ajurri mengingatkan agar para ulama terhindar dari fitnah yang menimpa seorang alim. Beberapa hadis yang menyinggung hal tersebut pun dinukil dalam kitabnya itu. Riwayat pertama yang disebutkan adalah riwayat Abdullah bin Umar. Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah atau menginginkan tujuan selain (rida) Allah, hendaknya dia mencari tempat duduknya di neraka.”

Fenomena fitnah yang menimpa ulama telah diberitakan secara jelas oleh Rasulullah. Integritas moral yang mestinya dipertahankan oleh ulama berangsur hilang. Bahkan, ulama akan kerap terlibat dengan masalah-masalah yang menggerus moralitas dan akhlak mereka.

Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik diberitakan, Rasulullah SAW bersabda, “Akan muncul di akhir zaman nanti para ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang fasik.” Sebab itulah, hadis tersebut tampaknya disikapi serius oleh kalangan salaf.

Dalam sebuah pesannya, Sufyan ats-Tsauri pernah mengingatkan akan kemunculan fenomena itu. Kewaspadaan dan antisipasi penting dilakukan. Apa pasal? Tak lain karena dampak akibat fitnah yang menimpa ulama akan berimbas pada umat secara kesuluruhan.

Berangkat dari pemaparan diatas kami penyusun berusaha membahas mengenai hal-hal yang seharusnya di lakukan para Ulama’. Pembahasan ini kami persembahkam bagi Agama kami, Agama Islam. Bagi para Ulama’ –semoga Allah selalu meridhai mereka–, Bagi kedua orang tua kami, bagi guru kami dan seluruh orang yang kami cintai. Dan semoga pembahasan ini menjadi bukti kelak di ahirat nanti atas apa yang telah kami sumbangkan demi agama kami.

 

TUGAS PARA ULAMA’

 

  1. KONSEKUEN ATAS UCAPAN DAN TINDAKAN

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 44 :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan, sementara kalian lupakan dirikalian sendiri, padahal kalian baca itu Al-kitab. Apakah kalian tidak berfikir?”

 

Ayat yang begitu menohok ini diturunkan kepada bani Israil. Mereka  mengetahui akan kebenaran Islam. Mereka perintahkan kerabat mereka untuk masuk dan tetap didalam Islam. Sementara mereka sendiri enggan melaksanakannya(2).

Meskipun ayat ini turun dalam konteks mengecam orang-orang yahudi, namun tidak diragukan lagi bahwa ayat ini ditujukan pula kepada kita umat Islam. Dan agaknya ayat ini tertuju pada mereka yang benar-benar mengetahui, dalam konteks ini jelaslah para Ulama’. Jadi, berdasarkan firman Allah ini, tugas utama bagi para Ulama adalah konsekuen dalam perkataan dan perbuatan. Hal ini jelas mengingat bahwa uilama adalah sendi utama dari agama Islam. Dalam berbagai kesempatan seorang ulama dituntut untuk selalu beramar ma’ruf nahi mungkar. Dalam beramar maruf  nahi mungkar inilah seringkali perkataan harus dikeluarkan. Celakanya adalah bila seseorang yang berkata itu kemudian menolak kata-katanya sendiri dengan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perkataanyya tersebut. Disinilah teori [2][3]modelling atau yang kita kenal dengan uswah, teladan itu berpengaruh. Dan disini pula akan tampak nyata apa yang dimaksud “Lisaanul Haal Afshohu Min Lisaanil Maqool” Aksi lebih mengena dalam memberi pengaruh daripada kata-kata.

Konsekuen dalam perkataan dan perbuatan adalah sesuatu yang sangat terpuji. Pelakunya akan mendapat kemulian baik didunia maupun diahirat, namun bagi mereka yang meninggalkannya ancamannya adalah azab yang sangat mengerikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“مثل العالم الذي يعلم الناس الخير ولا يعمل به كمثل السراج يضيء للناس ويحرق نفسه”

Perumpamaan  ulama yang mengajarkan  kebaikan, namun dirinya tidak melakukannya adalah sebagaimana lilin. Dia menerangi sekitarnya, namun dirinya sendiri terbakar(3)

Ancaman ini sangatlah beralasan, karena Ulama adalah ujung tombak perjuangan Islam. Bila mereka melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya maka umatpun akan bingung. Dan yang lebih parah bila ulama melakukan sesuatu yang bertentangan dengan moralitas maka bukan tidak mungkin umat akan menjadi ragu bahkan terhadap agama Islam sendiri. Untuk itu adalah suatu keharusan bagi seorang ilama agar berhati-hati dalam setiap gerak baik perkataan maupun perbuatannya.

  1. BERGERAK, BERTINDAK DAN BERKATA BERDASARKAN ILMU

Adalah tugas Ulama yang tidak kalah penting  bertindak, bergerak dan berkata berdasarkan Ilmu. Allah SWT berfirnan dalam surat Al Isra’ Ayat 36 :

{ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا}

“Janganlah kalian ikuti, hai manusia, perkataan atau perbuatan yang kamu tidak ketahui. Jangan kamu ucapkan, “Aku telah mendengar,” padahal sebenarnya kamu tidak mendengar; atau “Aku telah mengetahui,” padahal kamu tidak mengetahui. Sesungguhnya, pada hari kiamat, nikmat yang berupa pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban dari pemiliknya atas apa-apa yang telah diperbuatnya”

 

Asbabun Nuzul

Imam Al Kurtubi meriwayatkan dari Imam Abu Abdullah Al Maazy, yang meriwayatkan satu keterangan dari penyebab turunnya ayat ini. Dimana riwayat ini beliau dapatkan dari Abu Daud dari Ahmad ibn Sholih bahwa ayat ini berkenaan dengan Kasak kusuk orang jahiliyah tentang Usamah yang hitam legam, tetapi ayahnya putih melebihi kapas(4)

Pembahasan

Adalah sesuatu yang memalukan bahwa seseorang yang dianggap ulama atau orang yang pandai diam seribu bahasa tanpa mampu menjawab akan pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ini adalah pandangan orang awam yang memandang kepintaran hanya dari satu sisi. Kepintaran bila dilihat dari satu sisi akan menghasilkan pandangan yang serba perfect, dimana seseorang dianggap pintar jika dan hanya jika mampu menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Pandangan  materialistik ini tidaklah pantas dan tidak akan pernah bersarang dibenak para ulama. Karena Ulama sejati akan selalu memandang bahwa yang dinamakan orang cerdas adalah mereka yang menjawab sesuai dengan ilmu yang dikaetahuinya. Dan diam untuk tidak menjawab dalam bidang yang tidak dikuasainya. Para Ulama sejati akan selalu mementingkan umat. Mereka tidak mau mengorbankan umat hanya untuk menutupi rasa ego mereka. Karena mereka meyakini bahwa sebagian dari ilmu adalah mengatakan tidak tahu atas apa yang tidak kita tahu. Imam Malik sendiri pernah mengatakan barang siapa mengatakan saya tidak tahu, pasti akan diajari Allah  atas apa yang dia tidak tahu.

Tindakan berkata tanpa menggunakan ilmu ini termasuk perkara yang paling berbahaya dan paling besar dosanya. Bahkan bila yang diucapkan tadi adalah [4]mengenai zat Allah ‘Azza wa Jalla mensejajarkan ucapan tentang Allah tanpa ilmu dengan perbuatan syirik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al A’raaf: 33)

Hal ini menyangkut ucapan tentang Allah dalam masalah dzat-Nya, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan ataupun syari’at-Nya. Jadi tidak seorang pun dihalalkan memfatwakan sesuatu sampai dia tahu bahwa hal tersebut adalah syari’at Allah ‘Azza wa Jalla.

Untuk itu seseorang haruslah memiliki kelengkapan (persiapan) dan kemampuan yang berupa ilmu pengetahuan sehingga dengan hal itu ia dapat mengetahui apa-apa yang ditunjukkan oleh berbagai dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Saat bila dia sudah memiliki perlengkapan itulah baru dia boleh berkata..

Untuk itu, nila ada seorang mufti (orang yang berfatwa) adalah orang yang berbicara tentang Allah ‘Azza wa Jalla dan orang yang menyampaikan tentang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Maka jika ia mengucapkan suatu perkataan, sedangkan ia tidak mengetahui atau kurang meyakininya, setelah ia mentelaah, berusaha keras dan memikirkan dalil-dalilnya, bisa jadi orang ini telah mengucapkan tentang Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu. Ia harus bersiap-siap untuk memperoleh hukuman dari Allah.

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ  أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَكَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (Al ‘Ankabuut: 68)

.

  1. MENAHAN BICARA

Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaf ayat 2 sampai 3 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ 3)

“Wahai orang-orang yang beriman, untuk apa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Allah sungguh sangat benci kalau kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan”.

 

 

Penafsiran Ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ } أي: لم تقولون الخير وتحثون عليه، وربما تمدحتم به وأنتم لا تفعلونه، وتنهون عن الشر وربما نزهتم أنفسكم عنه، وأنتم متلوثون به ومتصفون به.
فهل تليق بالمؤمنين هذه الحالة الذميمة؟ أم من أكبر المقت عند الله أن يقول العبد ما لا يفعل؟ ولهذا ينبغي للآمر بالخير أن يكون أول الناس إليه مبادرة، وللناهي عن الشر أن يكون أبعد الناس منه، قال تعالى: { أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ } وقال شعيب عليه الصلاة والسلام لقومه: { وما أريد أن أخالفكم إلى ما أنهاكم عنه } .

Imam Abdurrahman assuddi mengajukan pertanyaan kepada kita umat Muslim dalam menanggapi maksud dari ayat ini. Beliau menanyakan patutkah kiranya bila kita mengatakan sesuatu kebaikan namun kta tidak melaksanakannya. Pertanyaan ini mengingatkan kepada kita akan firman al[5]lah dalam surat al-Baqarah ayat 44, yang artinya kurang lebih “Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan, sementara kalian lupakan dirikalian sendiri, padahal kalian baca itu Al-kitab. Apakah kalian tidak berfikir?”

Kemudian Setelah memberikan pertanyaan ini, beliau memberikan satu solusi bahwa siapapun yang membicarakan kebaikan hendaklah dia orang yang pertama kali melakukan kebaikan itu (5). Dengan begitu Tiada kehawatiran akan apa yang di bicarakannya.

PENUTUP

 

Dari berbagai tugas dan tanggung jawab para ulama yang kami paparkan dalam buku ini, tiada satupun yang terasa sulit untuk dijalani bagi mereka yang benar-benar dipilaih Allah. Dengan rahmay dan taufik Allahlah segala tugas dan tanggung jawab diatas akan dapat kita laksanakan sebaik-baiknya. Dengan kesadaran seperti inilah seorang/ulama akan selalu waspada adalam menjalani kehidupan dan tanggung jawab besarnya itu. Mereka tidak akan lekas sombong bilamana mereka selamat dari berbagai hal buruk, justru mereka akan semakin  bertambah hati-hati. Dan dari sikap inilah muncul satu sikap yang sangat sulit ditembus oleh gempuran syaitan yang terkutuk. Sikap tersebut adalaah sikap tawadu’ dan menyerahkan segala permasalahannya hanya kepada Allah, selalu bergantung pada  Allah dan selalu mengandalkan bantuanNya.

Terahir, dengan keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada merekai, para Ulama senantiasa mendapat tantangan yang berbahaya. Disaat inilah pertaruhan maha dahsyat dimulai,\. Bila mereka kuat didalamnya, kemulian dunia ahiratlah balasannya. Untuk itu, tentunya kita selalu mendoakan para ulama kita agar beliau-beliau selalu istikamah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Aamiin..

DAFTAR PUSTAKA

Ahlak Ulama, Abu Bakar Muhammad bin al Husain bin Abdullah Al Jurri (360)

Al Jami’ li ahkamil Qur’an, Muhammad bin Ahmad bin Abu bakar Al Kurtubi

Tafsir AlQuran Al Azim ,Ismail bin Umar bin Katsir

Taisirul Karimirrahman fi tafsiiri kalaamil mannan, Abdrrahman bin Nashir bin Abdillah Assa’diy


[1] Ahlak Ulama, Abu Bakar Muhammad bin al Husain bin Abdullah Al Jurri (360)

[2] Tafsir AlQuran Al Azim ,Ismail bin Umar bin Katsir

[3] Ibid

[4] Al Jami’ li ahkamil Qur’an, Muhammad bin Ahmad bin Abu bakar Al Kurtubi

[5] tTaisirul Karimirrahman fi tafsiiri kalaamil mannan, Abdrrahman bin Nashir bin Abdillah Assa’diy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: