Oleh: keluarga ikmal | Desember 12, 2011

PESANTREN SEBAGAI WAHANA PENGEMBANGAN REALITAS DUNIA SASTRA ARAB

oleh :

Tazzi Natuz Zulfa

Menurut Kodirun, Alumni Pondok Pesantren Pembangunan “Miftahul Anwar” Cigaru II Majenang Cilacap Jawa Tengah.Pesantren sebagai bagian budaya tersendiri dalam masyarakat hidup di tengah-tengah situasi global yang mengelilinginya. Pesantren telah mengalami situasi-situasi yang sedemikian sulit dalam perjalanannya. Pesantren juga telah menunjukkan prestasi-prestasi yang cukup memberikan kemanfaatan pada masyarakat luas. Tetapi bagaimana dengan tradisi yang dimilikinya? Selama ini metode pengajian dengan bertumpu pada kitab-kitab kuning yang dirintis oleh para pendahulunya (al-salaf al-shalih) terkadang tidak cukup mampu memberi jawaban-jawaban atas persoalan yang mencuat dalam panggung kehidupan. Tidak cukup bisa bermain dalam arena pertandingan yang sering membuat urat saraf menegang. Pesantren dianggap masih jauh ketinggalan di belakang para sprinter yang hampir menyentuh garis finish. (http://www.pondokpesantren.net/ponpren diunduh tanggal 20 April 2011 jam 09.00 WIB)

Pendek kata, selain harus berpegang pada tradisi spesifiknya, pesantren sudah harus menemukan dan membuat model lain dalam kerangka menyampaikan pesan-pesan ilahiah. Para santri menjadi sastrawan! Menyampaikan segala persoalan melalui karya sastra (puisi, cerpen, novel, naskah teater, naskah drama, naskah film dan lain sebagainya) Mungkinkah? Sangat mungkin, karena sebenarnya mereka mempunyai banyak tokoh yang bisa dijadikan sebagai panutan. Kitab kuning yang mereka baca pun ada sebagaian yang berisi sastra yang bernilai tinggi. Para santri sebenarnya sudah terbiasa dengan kitab ‘Ushfuriah yang berisi cerita-cerita imajinatif, dengan kitab Alfiah ibn Malik yang berisi seribu lebih sedikit bait syair tentang tata bahasa Arab, kitab al-barzanji dan al-dziba’i yang berisi sejarah perjalanan Nabi saw. dan masih banyak lagi kitab yang mereka baca berkenaan dengan sastra atau bernada sastra. Tetapi anehnya para santri hanya sekedar mengkajinya dan menyampaikannya secara lisan saja. Mereka kekurangan kreativitas untuk membuat hal yang baru dengan bahasa mereka sendiri, dengan olahan kata mereka sendiri yang mengandung nilai sastra. Padahal bahan untuk itu sangat banyak. Barangkali perlu diciptakan sebuah tradisi (ber)sastra untuk para santri.

“Pesta Arab (Pesantren Sastra Arab ): Sebagai Wahana Pengembangan Realitas Sastra Arab Dalam Dunia Pesantren” merupakan sarana penunjang yang sudah selayaknya diperhatikan terutama dalam menghidupkan sastra Arab di negara Indonesia, yang mungkin selama ini masih dianggap vakum.

Dalam esai ini penulis memaparkan tentang realitas sastra Arab dengan dunia pesantren, serta hal-hal yang menunjukkan bahwa sastra Arab belum bisa berkembang dalam dunia pesantren dan juga tawaran solusi untuk  mengembangkan sastra arab dalam dunia pesantren.

Realitas Sastra Arab Dengan Dunia Pesantren

Menurut Ketua Yayasan Pondok Pesantren Lembaga Kajian Islam dan Sosial Kali Opak Jadul Maula, santri telah berkecimpung dengan sastra seperti syair maupun rangkaian untaian doa dalam kehidupan sehari-hari. “Secara tidak sadar, jiwa sastra telah terbentuk, tetapi aliran sastra pesantren belum menemukan bentuknya. (http://oase.kompas.com diunduh tanggal 20 April 2011 jam 09.00 WIB)

Istilah adab saat ini banyak digunakan dengan makna sastra, seperti istilah كلية الأدب ( Fakultas Sastra ), تاريخ الأدب العربي (Sejarah Kesusastraan Arab), النقد الأدبي ( Kritik Sastra ), dan الأدب المقارن (Sastra Perbandingan). Adab merupakan suatu bentuk ekspresi kehidupan melalui sarana bahasa. Karena itu, mempelajari adab juga erat hubungannya dengan mempelajari kebudayaan dan lingkungan yang melingkupinya. Adab juga bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk seni, sebagaimana seni musik atau seni rupa, hanya saja ia menggunakan bahasa sebagai sarananya.

Secara garis besar, karya sastra dibedakan atas dua genre ( النوع ), yaitu puisi (الشعر) dan prosa ( النثر ). Secara kategoris, puisi bisa dibedakan atas puisi perasaan (الشعر الغنائي أوالوجداني ), puisi cerita (الشعر القصصي أو الملحمي), puisi perumpamaan (الشعر التمثيلي ), dan puisi pengajaran ( الشعر التعليمي ). Prosa bisa dibedakan atas prosa tertulis dan prosa tak tertulis. Prosa tertulis meliputi prosa naratif (القصة) dan prosa non naratif (المقال). Prosa naratif meliputi biografi (الرواية), kisah (القصة) , cerita pendek (الأقصوصة = القصة القصيرة), dan novel. Adapun prosa non naratif bisa dibedakan atas prosa subyektif (argumentasi/persuasi) (المقال الذاتي) dan prosa obyektif (deskripsi/eksposisi) (المقال الموضوعي). Prosa tak tertulis meliputi pidato (الخطابة), ceramah baik ceramah audiovisual (المحاضرة) maupun ceramah auditorial (الحديث الاذاعي), dan drama (المسرحية). Drama sendiri dibedakan atas drama komedi (الملهاة) dan drama nonkomedi (المأساة).

Menurut Fuad Said, untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang masyhur itu lebih jauh dan untuk menilai keindahan kalimat baik prosa maupun puisi, maka sastrawan-sastrawan Arab telah menetapkan 13 cabang ilmu yang bertalian dengan bahasa yang disebut dengan “Ulumul Arabiyah”

“Ulumul Arabiyah” bisa disebut linguistik Arab itu terdiri dari :

1. Ilmu Lughah: llmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata (lafaz) Arab bersamaan dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat mengetahui asal kata dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan pedoman dalam percakapan, pidato, surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan menulis dengan baik pula.

2. Ilmu Nahwu: Ilmu pengetahuan yang membahas perihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui Arab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang dapat berubah (mu’rab).

Tujuannya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa, untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami Al-Quran dan Hadits, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan.

Alam tata bahasa/sintaksis Arab, dikenal istilah Fi’iil dan Harf, jumlah Islamiyah dan Fi’liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan persoalan yang dihadapi, dapat diteliti dari buku-buku yang banyak tersebar. Yang dikenal memprakarsai Nahwu adalah Ali bin Ali Thalib beserta sahabatnya.

Peristilahan Nahwu yang berpengaruh kepada bahasa Indonesia adalah yang dikarang oleh Abul Aswat Adduali dan Sibawaihi yang terlebih dahulu dikenal orang Barat.

3. Ilmu Sharf (morfologi Arab):  Ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang bentuk asal kata, maka dengan ilmu ini dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula afiks, Sufiks dan infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Penciptaan llmu Sari ini adalah Muaz bin Muslim.

4. Ilmu Isytiqaq: Ilmu pengetahuan tentang asal kata dan pemecahannya, tentang imbuhan pada kata (hampir sama dengan ilmu Sarf)

5. Ilmu ‘Arudh : Ilmu pengetahuam yang membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra syair dan puisi. llmu Arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan tujuanya adalah untuk membedakan proses dalam puisi membedakan syair dan bukan syair. Dengan ilmu arudh ini dikenal bahar syair seperti berikut ini: bahar thawi, bahar madid, bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hijaz, bahar rozaz, bahar sari’ bahar munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqradmib, bahar mujtas, bahar mutaqarib, bahar Romawi dan bahar mutadarik.

6. Ilmu Qawafi: Ilmu pengetahuan yang membahas suku terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui keindahan syair. Yang memprakarsai adanya Qawafi ialah Muhallil bin Rabi’ah paman Amruul Qaisy.

7. llmu Qardhus Syi’ri: yaitu sejenis ilmu pengetahuan tentang karangan yang berirama (lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk membantu menghafalkan syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.

8. Ilmu Khat: yaitu pengetahuan tentang huruf dan cara merangkaikannya, termasuk bentuk halus kasarnya dan seni menulis dengan indah dapat dibedakan dalam beberapa bentuk mulai dari khat tsulus, Diwan, Parsi dan khat nasakh. Penemu pertama ilmu khat adalah nabi Idris karena beliaulah yang pertama kali menulis dengan kalam.

9. Ilmu Insyak: yaitu ilmu pengetahuan tentang karang mengarang surat, buku, pidato, cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga jangan sampai salah dalam dunia karang-mengarang.

10. Ilmu Mukhodarat: yaitu pengetahuan tentang cara-cara memperdalam suatu persoalan, untuk diperdebatkan di depan majlis, untuk menambah keterampilan berargumentasi, mahir bertutur dan terampil mengungkapkan cerita.

11. Ilmu Badi’: yaitu pengetahuan, tentang seni sastra. Penemu ilmu ini adalah Abdullah bin Mu’taz. llmu ini ditujukan untuk menguasai seluk beluk sastra sehingga memudahkan seseorang dalam meletakkan kata- sesuai tempatnya sehingga kata-katanya indah didengar dan mudah diucapkan.

12. Ilmu Bayan: ialah ilmu yang menetapkan beberapa peraturan dan kaedah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat. Penemunya adalah Abu Ubaidah yang menyusun pengetahuan ini dalam “Muujazu Al-Quran” kemudian berkembang pada imam Abu qahir disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya seperti AI-Jahiz, lbnu Mu’taz, Qaddamah dan Abu Hilal Al- Asikari. Dengan ilmu ini akan diketahui rahasia bahasa Arab dalam prosa dan puisi, keindahan sastra Al-Quran dan Hadist. Tanpa mengetahui ilmu ini seseorang tidak akan dapat menilai apalagi memahami isi Al-Quran dan Sabda nabi dengan sesungguhnya.

13. Ilmu Ma’ani ialah pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai dengan keadaan (situasi dan kondisi) dalam istilah disebutkan “Muthabiq Lil /muqtadhal Hali” tujuannya untuk mengetahui I’jaz Al-Quran, keindahan sastra Al-Quran yang tiada taranya. Demikian pembagian ilmu L-Arabiyah yang disadur dari (dalam pengantar Sastra Arab 1985: 98-106).

Pesantren atau pondok menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu, kata pondok berasal dari Bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel atau asrama. Menurut Kuntowijoyo, pesantren adalah lembaga pendidikan dan lembaga sosial yang tidak saja tumbuh di pedesaan, tetapi juga di perkotaan dan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam praktik pengajaran, pondok pesantren kaya dengan produk sastra. Namun, sastra pesantren cenderung terpinggirkan dan bahkan belum dikenal khalayak. Pesantren merupakan wahana yang tepat untuk mengembangkan sastra arab. Karena di dalamnya kental mempelajari unsur-unsur sastra arab. Terutama pada pesantren yang masih menggunakan kitab kuning sebagai kajian utama pada setiap pelajaran yang dikaji.

Pelajaran di pesantren meliputi: aqidah, syari’ah, Bahasa Arab, tajwid, tafsir, aqoid, ilmu kalam, ushul fiqh, mustolahul hadist, nahwu, sorof, bayan, ma’ani, badi’ dan arudl, tarikh, mantiq, dan tasawuf, atau lazim disebut kitab kuning. Sudah sangat cukup untuk memciptakan karya sastra arab. Jika di kaitkan dengan sastra arab pelajaran-pelajaran nahwu, shorof, blaghoh (ma’ani, badi’, bayan, arudl) ini merupakan pokok utama dalam kajian linguistik arab sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Jadi disini sangat terlihat bahwa pada realitanya pembelajaran dalam pesantren sangat erat kaitanya dengan sastra arab.

Sastra Arab Belum Bisa Berkembang dalam Dunia Pesantren

Pembelajaran di pesantren pada umumnya masih mengkaji Bahasa Arab, tajwid, tafsir, nahwu, sorof, bayan, ma’ani, badi’, arudl, dan mantiq ini pengaplikasianya hanya diorientasikan supaya santri bisa membaca kitab kuning (untuk bisa memaknai gandul). Sehingga kemempuan santri hanya sebatas mampu membaca kitab dan mampu memberi makna. Akan tetapi santri belum bisa mengaplikasikanya dalam dunia seni atau sastra.

Hal lain yang membuat sastra arab belum bisa berkembang dalam dunia pesantren yakni karena tidak adanya wahana atau wadah yang mampu memberikan stimulus pada santri untuk bisa menghidupkan sastra arab. Karena ada tiga metode pengajaran yang umumnya digunakan di pesantren, yaitu wetonan, sorogan, dan hafalan. Dari ketiga metode tersebut bersifat tekstual sehingga santri sulit untuk mengembangkan kata dan mengekspresikanya dalam sebuah karya sastra baik berupa puisi, prosa, cerpen ataupun drama/film.

Hal demikian sudah seharusnya diperhatikan dalam rangka menciptakan sastrawan-sastrawan dari kalangan santri yang mampu mewarnai dunia dalam atau luar negri dengan keindahan sastra arab.

Cara Mengembangkan Sastra Arab dalam Dunia Pesantren

Sastrawan seperti Zawawi Imron maupun Ahmad Tohari berasal dari pesantren, tetapi belum dikategorikan sebagai sastrawan arab. Untuk mendongkrak minat generasi muda pesantren berkarya di bidang sastra, pondok pesantren harus giat menggelar beragam pendidikan sastra, pembuatan film pendek, hingga mengapresiasi film ataupun yang sederhana misalkan pembuatan puisi atau cerpen dalam rangka mengembangkan kemampuan santri dalam bidang ilmu balaghoh, mantek, nahwu, shorof untuk bisa mepelajari dan mengenal sastra arab.

“Pesta Arab (Pesantren Sastra Arab ): Sebagai Wahana Pengembangan Realitas Sastra Arab Dalam Dunia Pesantren” bisa diaplikasikan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan pada pondok pesantren yang memang santrinya dalam mempelajari ilmu balaghoh, mantek, nahwu, shorof sudah sangat kental bahkan bisa dikatakan sebagai makanan sehari-hari, berbeda pada pesantren yang moderen pada umumnya hanya menekankan pada kemampuan mahir bercakap-cakap dengan bahasa arab akan tetapi untuk qowa’id tidak begitu ditekankan.

Pesta arab bisa dilaksanakan setiap hari jum’at karena untuk di pesantren hari liburnya adalah hari jum’at, kegiatan dilaksanakan dalam kelas kemudian dari sejumlah santri yang berminat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelompok puisi, drama/film, dan prosa, santri diberikan kebebasan untuk memilih dalam kelompok mana. Setelah terbagi menjadi beberapa kelopok, setiap kelompok diprlihatkan hasil-hasil karya sastra yang sudah ada harapanya bisa dijadikan panduan dan membuka wawasan santri tentang dunia sastra arab. Dari contoh-contoh yang sudah dipaparkan maka setiap kelompok ditugaskan untuk membuat karya sederhana sesuai kelompok ynag dia pilih. Kegiatan ini bisa dilakukan rutin satu pekan atau dua pekan sekali dalam rangka menanamkan kebiasaan bersastra arab, dari kebiasaan akan muncul hobi dan bisa lebih berkembang. Hal ini juga bisa membuktikan bahwa santri tidak hanya bisa tahlil, lulusan daripondok kemudian menjadi pa kyai atau pa ustadz tetapi tunjukan pada dunia bahwa keluaran dari pesantren bisa menghidupkan sastra arab dalam negeri.

Simpulan

Dalam praktik pengajaran, pondok pesantren kaya dengan produk sastra. Namun, sastra pesantren cenderung terpinggirkan dan bahkan belum dikenal khalayak. Pesantren merupakan wahana yang tepat untuk mengembangkan sastra arab. Karena di dalamnya kental mempelajari unsur-unsur sastra arab. Terutama pada pesantren yang masih menggunakan kitab kuning sebagai kajian utama pada setiap pelajaran yang dikaji.

Pembelajaran di pesantren pada umumnya masih mengkaji Bahasa Arab, tajwid, tafsir, nahwu, sorof, bayan, ma’ani, badi’, arudl, dan mantiq ini pengaplikasianya hanya diorientasikan supaya santri bisa membaca kitab kuning (untuk bisa memaknai gandul). Sehingga kemempuan santri hanya sebatas mampu membaca kitab dan mampu memberi makna. Akan tetapi santri belum bisa mengaplikasikanya dalam dunia seni atau sastra.

Untuk mendongkrak minat generasi muda pesantren berkarya di bidang sastra, pondok pesantren harus giat menggelar beragam pendidikan sastra, pembuatan film pendek, hingga mengapresiasi film ataupun yang sederhana misalkan pembuatan puisi atau cerpen dalam rangka mengembangkan kemampuan santri dalam bidang ilmu balaghoh, mantek, nahwu, shorof untuk bisa mepelajari dan mengenal sastra arab. Pesta arab (pesantren sastra arab ): sebagai wahana pengembangan realitas sastra arab dalam dunia pesantren merupakan langkah awal yang tepat untuk menghidupkan karya sastra arab dari pesantren.

Daftar Pustaka

Departemen pendidikan dan kebudayaan. 1989.Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Kamil,Sukron. 2009. Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern. Jakarta: PT Raja Grafindo persada.

Khozin. 2006. Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia Rekonstruksi Sejarah Untuk Aksi.   Malang : UMM Press.

Muzakki, Ahmad. 2006. Kesusastraan Arab Pengantar Teori dan Terapan. Jogjakarta: Ar-ruzz media.

nata,abidudin.H dkk.2011. sejarah pertumbuhan dan perkembangan lembaga- lembaga islam di indonesia. jakarta :PT grasindo

Indonesia. Pesantren Nasional. http: //www.pnri.go.id/. Diunduh tanggal 20 April 2011.

Pergulatan Sastra Pesantren; Sebuah Harapan. http://www.pondokpesantren.net/ponpren. diunduh pada 20 April 2011.

pengantar Ilmu Lughah. http://www.hadielislam.com/indo/lughah-arabiya/pengantar-ilmu-lughah.html. diunduh pada 20 April 2011

Sastra. Pesantren. Terpinggirkan http://oase.kompas.com/read/2011/04/20/01130274.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: